The Postcard Killings (2020): Ketika Karya Seni Menjadi Ide Pembunuhan | Lim Suandi A Man Behind The Scenes

Sabtu, 27 Juni 2020

The Postcard Killings (2020): Ketika Karya Seni Menjadi Ide Pembunuhan

The Postcard Killing 2020
The Postcard Killing 2020

Ada banyak review The Postcard Killings (2020) di situs internet. Rata-rata tulisannya lebih menekan aspek detektif. Para penulisnya lebih memilih untuk melakukan resensi film The Postcard Killings dari sisi upaya mengungkapkan kejahatan. Lebih membahas perjuangan sang detektif (Jeffrey Dean) menemukan pelaku, dan berusaha untuk mencegah terjadinya korban baru.

Namun rasanya, ada sisi lain yang cukup menarik untuk dibahas. Sehingga saya, lebih memilih untuk melakukan ulasan Postcard Killings (2020) dari sisi berbeda. Yakni, kisah pembun*han berantai yang menjadikan karya seni sebagai tindakan kejahatannya.

Perlu diketahui, perilaku jahat (Pembunuh) tersebut terjadi karena proses panjang. Jadi, kamu harus menonton terlebih dahulu, jika ingin mengetahui penyebabnya(*jika kuat nonton).

Sinopsis The Postcard Killings

Jacob Kanon (Jeffrey Dean) harus merasakan kesedihannya, putrinya yang baru saja menikah dan sedang berlibur ke Madrid dengan suaminya, tewas. Sebagai ayah sekaligus detektif, ia sungguh ingin menyelesaikan kasus tersebut. Sehingga mengetahui siapa pelakunya. Hanya saja, hal tersebut sulit untuk dilakukan. Karena berada diwilayah bukan zona tugasnya.

Karena kepolisian dilokasi pembun*han sangat lambat menyelesaikan kasus, ia sungguh kesal. Sehingga memutusakan untuk mencari sendiri informasi dengan teliti. Berharap mendapatkan petunjuk dan menemukan pelakunya. Bahkan dapat mencegah munculnya korban-korban lainnya.

Pelaku, sebelum melakukan pembun*han, akan mengirimkan postcard kepada para jurnalis asal Amerika yang bekerja di wilayah yang menjadi target pembun*han selanjutnya. Jurnalis yang mendapatkan postcard tersebut melaporkan ke pihak kepolisian, sehingga saksi (penerima postcard) tidak boleh memberikan informasi tersebut ke orang lain. Karena ini rahasia negara.

Jacob Kanon sungguh kewalahan mencari petunjuk, sampailah satu postcard kepada Dessie Lombard (Cush Jumbo). Ia adalah jurnalis berita diwilayah Stockholm (Capital of Sweden).

Jacob mengikuti Dessie pulang kerja, sungguh Dessie tidak menggubris. Namun akhirnya Dessie menghubungi kembali Jacob, alasannya karena kejadian yang terjadi pada Jacob dapat dijadikan berita features, pastinya akan sangat laku di tahun tersebut. Akhirnya mereka selalu bersama. Jacob butuh Dessie sebagai pemberi informasi, dan Dessie menilai Jacob sebagai ladang tulisan.

Jacob dan Dessie terlibat dalam berbagai hal di setiap ada kasus. Namun, akhirnya tujuan Dessie diketahui Jacob. Kelanjutannya tonton sendiri ya.


Pemeran Postcard Killings 2020

Adapun nama pemain dalam the Postcard Killings 2020 sebagai berikut:

Jeffrey Dean Morgan, Famke Janssen, Naomi Battrick, Cush Jumbo, Lukas Loughran, Steven Mackintosh, Eva Rose, Ruairi O’Connor, Joachim Krol, Denis O’Hare, Sallie Harmsen, Orla O’Rourke, Christopher Pizzey.


Ulasan The Postcard Killings (2020)

the postcard killings 2020
Jacob Kanon (Jeffrey Dean Morgan) dan Valerie Kanon (Famke Janssen) saat dipemakaman putrinya (adegan akhir film The Postcard Killings 2020)

Adapun Resensi The Postcard Killings (2020) sebagai berikut. Postcard Killings dimulai dengan opening yang sungguh membuat saya merinding. Sungguh saya berpikir, Postcard Killings akan menjadi thriller kriminal yang menegangkan. Ya setidaknya itu yang saya harapkan.

Seram? Sudah pasti. Karena ada banyak bagian di Postcard Killing 2020 menampilkan hal-hal seram (mungkin bagi beberapa orang). Apa masih ingin menonton? Saya sih, masih lanjut.

Film The Postcard Killings (2020) cukup menarik. Namun beberapa pembaca buku aslinya, cukup kecewa dengan versi film. Hal ini dikarenakan, banyak adegan di film terlalu cepat disetiap bagian kisahnya. Satu kasus, ke kasus yang lainnya terasa tidak berjeda.

The Postcard Killing 2020
Adegan di film The Postcard Killing 2020, saat Jacob dan Dessie menganalisis informasi.

Ya mau bagaimana lagi? Namanya juga durasi. Setidaknya, bagi saya yang belum membaca buku “The Postcard Killer karya Liza Marklund (asal Swedia). Saya sungguh tidak tau alur ceritanya. Tapi, versi film sudah cukup membuat penasaran dan mengerikan. Namanya juga film, ya terbatas durasi. Banyak kok film Indonesia yang harus dipercepat karena keterbatasan durasi. Sehingga sedikit banting setir alurnya.

Kita (bacanya saya) tidak akan pernah menduga, alur cerita yang ternyata sungguh mengejutkan di pertengahan. Lah saya menyangka, pembunuhnya adalah mereka berdua yang bertato. Eh ternyata salah dugaan, dan kagetnya lagi, ternyata mereka (pasangan yang manis, imut) tersebut adalah sosok pembun*h. Waw sungguh mengejutkan. Kejahatan mereka yang sungguh tersusun dengan baik, dilengkapi bukti-bukti yang menunjukan tidak ada jejak kejahatan terhadap mereka.

The Postcard Killing 2020
The Postcard Killing 2020


Alur pembun*han berantai yang sungguh menegangkan. Meksipun, tidak ditunjukan adegan kejahatan tersebut. Namun melihat korban-korban yang sungguh mengenaskan, saya cukup takut. Dalam film ini tidak akan ada adegan darah kok, jadi tenang.

Sayangnya, klimaks dari Film The Postcard Killings (2020) sungguh mengecewakan. Bukan karena tidak bagus, tapi berasa kurang klimaks deh. Ya kalau kamu tidak percaya silakan nonton sendiri Postcard Killings (2020).

Namun banyak juga nuansa yang sungguh menarik, nanti deh aku bahas tulisannya tersendiri kalau sempat.


Karya Seni dan Ide Pembun(han) Berantai

Siapa sangka, ternyata motif kejahatan mereka karena kecintaan terhadap seni. Riwayatnya panjang deh, nanti bakal ada bagian yang menceritakan tentang ini dan berhubungan dengan tindakan mereka. Tonton saja nanti.

Nah berikut ini karya seni yang menjadi inspirasi tindakan di film The Postcard Killings (2020), berikut karya seni tersebut:

  1. The Kiss Karya Rodin (Patung)
  2. Saturn Devouring His Son Karya Francisco Goya (Lukisan)
  3. Psyche Revived By Cupid’s Kiss Karya Antonio Canova (Patung)
  4. The Incredulaty of Saint Thomas (Lukisan)
  5. Dante and Virgill in Hell Karya Bouguereau (Lukisan)
  6. Saint John The Baptis (Lukisan)
  7. Reclining Nude Karya Modigilani (Lukisan)
  8. Nah karya yang ini saya tidak tau namanya, karena tidak disebutkan. Gambarnya seperti dibawah.

Art in The Postcard Killings 2020
Salah satu karya seni yang menjadi inspirasi sang pembunuh berantai di The Postcard Killings 2020.

Cuma mau mengingatkan, jangan pernah deh lihat karya-karya tersebut. Terutama karya lukisannya. Eh, tapi semakin dibilangi jangan dicari. Malah orang-orang semakin penasaran. Hah dasar kalian semua. Saya tidak bertanggung jawab jika kalian mual, merinding dan bahkan tidak bisa tidur karena terbayang-bayang.


Soundtrack Enak, Tapi Merinding

Film yang bagus, selalu didukung oleh Original Motion Picture Soundtrack. Begitula dengan The Postcard Killing (Original Motion Picture Soundtrack) by Simon Lacey yang memukau. Berikut daftar judulnya berdasarkan adegan di film:

  1. Abyssus Abyssum Invocat
  2. Our Daughter
  3. Graveyard
  4. Not a Chance in Hell
  5. Death in London
  6. Pieter and Nienke
  7. Ferry
  8. Collision
  9. Waking up in the Snow
  10. Haysmith and Valerie
  11. Crime Scene
  12. Jacob’s Discovery
  13. Dessie’s Postcard
  14. Interrogation
  15. Amsterdam Murders
  16. Sylvia’s Flashback
  17. Young American Couple
  18. Husband and Wife
  19. Did You Find the Hands
  20. Grandmother’s Ring

Merinding coy, apalagi kayak ada yang nyanyi opera gitu.

Kesimpulan

Film The Postcard Killings 2020 cukup menarik untuk kamu tonton. Apalagi kamu yang memiliki jiwa penasaran dan ingin mencoba mengetes nyali. Sepertinya Postcard Killings 2020 bisa di jadikan bahannya. Namun, sepertinya saya tidak akan merekomendasikan thriller kriminal “Postcard Killings (2020)” kepada kalian yang takut dan mudah terbayang-bayang. Karena terdapat banyak bagian dalam film yang akan membuat perut terasa mual. Apalagi ditambah mencari gambar lukisan yang sudah saya jelaskan diatas. Lalu menghubungkan dengan pembun*han. Sungguh jangan lakukan hal demikian.

*Tolong, baca lengkap ya. Saya sungguh tidak akan bertanggung jawab.

Jika tulisannya bermanfaat, bantu bagikan ya kak

3 komentar

  1. wah lumayan nih aku suka film2 dengan adegan pembun#han hehe
    iya kadang ga ketebak siapa pelakunya
    apalagi kalau ceritanya polisinya lamban dalam bertindak
    coba deh aku liat mas
    makasih ya reviewnya

    BalasHapus
  2. Oh jd ini diambil dari buku ya mas. Untung aku blm baca bukunya, Krn keseringan tiap kali aku udh telanjur baca bukunya, lalu nonton filmnya, pasti kecewa Krn alur :D. Ngerti sih karena limited time tayang, mau gimana lagi.

    Kalo memang ada bukunya, aku LBH suka nonton dulu, baru ntr cari bukunya utk ngebandingin :).

    Menarik nih, secara aku dan suami sukaaa bnget film berbau thriller. Dan itu karya seni yg jd inspirasi mereka serius malah bikin penasaran hahahaha :p.

    BalasHapus