Novel Nora: Sisi Lain Jurnalistik Yang Ingin Disampaikan Putu Wijaya



Review Novel Nora Karya Putu Wijaya. (doc. Pribadi/Lim Suandi)
Novel Nora Karya Putu Wijaya. (doc. Pribadi/Lim Suandi)

Ringkasan Singkat Novel Nora Karya Putu Wijaya


Informasi Buku
Judul Buku: Nora (Novel ke-2 Tretalogi Novel Dangdut)
Penulis: Putu Wijaya
Penerbit: Basa Basi
Tahun terbit: 2017
Tebal Buku: 363

Novel Nora, berkisah tentang kusutnya hubungan Nora dengan Mala (suaminya, lalu jadi mantan). Perpisahan yang terjadi pada mereka, serta tuduhan kepada Mala atas kasus pembunuhan terhadap Midori. Sepenuhnya dalam novel nora karya Putu Wijaya menceritakan perjalanan panjang Nora yang ingin bertemu Mala. Ada banyak sekali review Novel Nora yang menceritakan perpisahan ini. Kamu bisa mencarinya di tulisan lain, sebab saya tidak akan menceritakan perjalanan panjang berbuah manis sekaligus pahit tersebut.

Saya menyarankan, agar dapat mengetahui lika-liku pertemuan Nora dan Mala tersebut. Alangkah baiknya membaca cerita lengkapnya di buku. Mengapa saya menyarankan demikian? Tiada lain, agar kalian merasakan sensasi buku Nora Putu Wijaya ini. Meskipun alur cerita panjang dan terkesan banyak kepingan misteri, hingga membuat pembaca merasa bingung. Tenang, kamu akan menemukan jawabannya di bab lainnya.



Ada Yang Lebih Menarik Dari Kisah Nora dan Mala

Sejujurnya, saya awalnya ingin melakukan resesensi Novel Nora dari sisi kehidupannya. Segala tentang Nora dan Mala akan di ceritakan. Seiring berjalannya waktu, selesai membaca berbulan-bulan. Barulah merasakan ada sisi lain yang ingin disampaikan Putu Wijaya dalam Novel Nora ini. Ya, beberapa kisah yang berhubungan dengan kehidupan jurnalisme.

Saya rasa, apa yang di narasikan cukup relevan dengan kondisi media pemberitaan masa kini. Sisi buruk yang sebenarnya ingin di ungkapkan Putu Wijaya dalam Novel Nora.

Hal Penting Dalam Novel Nora Karya Putu Wijaya

Bicara jurnalistik pemberitaan, terkadang cukup menyebalkan. Ya, kita pastilah tidak akan pernah curiga dengan framing yang diciptakan. Sadar ataupun tidak, framing yang sudah kita terima cukup berpengaruh terhadap cara kita berpikir. Belum lagi, pemberitaan yang tidak sepenuhnya disampaikan dengan jujur.

Dalam novel ini terdapat perkataan tentang kebenaran yang tak menjual untuk apa diberitakan. Apa yang menarik dari sebuah berita kejujuran namun tidak menghasilkan pendapatan. Belum lagi perihal berita permintaan dari redaksi. Ya, berita permintaan bertujuan publikasi kabar baik, bahkan juga sering terdapat berita permintaan untuk mengalihkan isu krusial suatu keadaan.

Kehidupan Jurnalisme Pada Novel Nora Karya Putu Wijaya

resensi Novel Nora Karya Putu Wijaya
Ilustrasi seseorang sedang menuliskan naskah. (sumber: remotivi)

Berikut sisi lain yang ingin disampaikan dalam novel Nora karya Putu Wijaya:

1. Perusahan Media Jurnalistik Milik Individu Pendiri

Lah apa salahnya? Tidak ada yang salah, hanya saja akan sangat berpengaruh terhadap isi pemberitaan yang akan dipublikasikan. Untuk saat ini, pastilah kamu berpikir masih belum mengerti letak kaitannya.

2. Saham Perusahan Itu Milik Beberapa Individu

Yang pasti, para konglomerat dengan senang hati jika ditawarkan saham perusahaan jurnalisme. Tujuannya bukan sekarang, tetapi akan berguna untuk kepentingan masa depan. Karena pada dasarnya, pemilik saham akan terkoneksi dengan media yang dipercaya masyarakat. Bahkan dengan saham inilah,  koneksi Investor politik dengan pendiri perusahaan juga akan mudah terjalin. Masih belum paham hal yang ingin disampaikan? Mari lanjutkan

3. Munculnya Berita Permintaan

Berita permintaan, bukan hanya berita baik seperti peresmian kantor baru perusahaan A, atau perusahaan A sedang membuat konser amal menggalang dana untuk disumbangkan kepada korban banjir (misalnya).

review Novel Nora Karya Putu Wijaya
Ilustrasi seseorang sedang bermain gawai (sumber: Jawa Post)

Kamu tau fungsi berita permintaan? Bukan hanya untuk demikian. Begini akan ku hubungkan dengan pemilik saham perusahan jurnalistik. Ketika pemilik saham perusahaan jurnalistik orang politik, artinya dia memiliki hak untuk memberikan masukan kepada pendiri perusahaan. Kalau saran tidak didengarkan, mereka akan menarik aset mereka. Masalahnya dimana?

Kamu pernah tidak, merasakan pemberitaan kasus korupsi ratusan juta tidak pernah di usut tuntas dalam berbagai sisi? Inilah fungsinya. Orang-orang yang punya kuasa akan berusaha mengalihkan pemberitaan besar dengan pemberitaan kecil yang berkaitan dengan nurani. Sehingga orang dengan mudahnya melupakan berita besar dan penting tersebut. Memang siapa mereka? sampai harus meminta berita permintaan demi pengalihan isu nasional. Ayolah, politik selalu berkenaan dengan materi dan jabatan. (pembahasan pemilik perusahaan, saham dan berita permintaan bisa kamu baca sendiri di Novel Nora)

4. Kita Ini Mesin Berita, Untuk Mencetak Uang

ilustrasi berita itu menghasilkan uang (sumber: Google)

Sepenggal percakapan antar adam dan budi perihal prioritas mana yang harus di dahulukan. Karena pada dasarnya kebenaran bisa dikesampingkan. Ada yang lebih menjual dari sebuah kebenaran,yakni uang. Uang akan membuat segalanya menjadi lebih mudah. Karena sekali saja salah langkah, posisi mereka akan diperebutkan oleh banyak orang. Bahkan kebenaranpun harus di ubah agar lebih berharga dan menjual (hal 44).

5. Opini dan Framing Akan Lebih Diterima Jika Terdapat Nama Terpercaya

Percakapan yang kutangkap seperti itu maknanya (pada halaman 46 tersebut). “ini mungkin sedikit berbeda, tapi kita sudah membiasakan pembaca untuk menerima opini yang berbeda. Najis pun akan menjadi benar jika dibawahnya terdapat nama yang sangat dipercaya oleh para pembaca”.

Sejauh ini apa kamu paham maksudnya? Semoga kamu paham yang disampaikan tersebut.

6. Jurnalisme Tunduk Redaksi dan Wartawan Takut Kehilangan Pekerjaan

Siapapun akan takut kehilangan pekerjaan pastinya. Begitulah, cukup banyak bagian yang menceritakan hal demikian. Wartawan yang menulis berita kebenaran, tetapi tidak begitu menjual bagi pimpinan redaksi tidak akan terbit. Solusinya, kalau tidak membuat berita lain, ya ambil sisi menjual dari suatu peristiwa. Contohnya pada kasus kecelakan masal. Yang akan lebih banyak di ekspose adalah kesedihan keluarga, mereka wartawan rela mengunjungi sampai dirumah, bertanya hal-hal yang membuat mereka bertambah sedih, bertanya adakah firasat akan kepergian orang terkasih, membuat peliputan sosok keseharian korban, dll. Semua demi rating.

7. Nurani Wartawan Akan Berbentur Dengan Jabatan dan Materi

Setidaknya dalam Novel Nora, seperti ini dinarasikan dalam sekian banyak lembaran. Banyak berkisah juga perihal idealisme yang kalah dengan jabatan dan materi. Salah satunya sosok Budi yang kuat dan idealis perihal kebenaran akhirnya tunduk setelah dijanjikan jabatan, mobil mewah dan rumah mewah baru.

Teks yang terdapat dalam Novel Nora karya Putu Wijaya (doc. Pribadi/Lim Suandi)

________________________________________________
Sebenarnya masih banyak pesan yang disampaikan dalam tulisan ini. Hanya saja saya menuliskan versi yang saya pahami saja. Tulisan ini sepenuhnya pemahaman saya terhadap isi Novel Nora karya Putu Wijaya. Kalaupun terdapat kesalahan, silakan dikoreksikan. Silakan membaca bukunya juga lebih dahulu.

Novel Nora, ada banya pesan sosial ekonomi bahkan kehidupan politik. Beberapa di antaranya perihal prostitusi, perdagangan perempuan menjadi budak seksual, perihal hati nurani yang harus berlawanan, ketakutan akan pemberhentian kerja, hingga perihal orientasi seksual. Silakan kamu baca Novel Nora karya Putu Wijaya yang sarat akan makna dan pesan penting.

13 Komentar

  1. Ntah, rasanya aku belum pernah sekalipun baca novel Putu Wijaya. Dan kayaknya yang ini menarik. Kalau Indonesia sejauh ini favoritku tetap Remy Sylado. I adore him!

    BalasHapus
  2. Aku belum pernah baca novel tentang jurnalistik gitu, jadi penasaran dengan Novel Nora karya Putu Wijaya ini, lagi pula udah lama banget gak baca novel..

    BalasHapus
  3. Semua jawaban atas kepingan misteri di novel ini sepertinya terletak di akhir cerita. Hmm, kalo benar dipastikan daku sudah sangat bosan menjumpai hal seperti ini, Lim. Tapi novel-novel Putu wijaya akan tetap jadi daftar bahan bacaan.

    BalasHapus
  4. Belum pernah baca buku berjudul nora, bahkan banyak katya putu wijaya yang belum saya baca. Namun sosok putu wijaya pertama kali sy tahu saat menonton film ramadhan dan ramona saat masih kecil yang merupakan karya putu wijaya dan meraih banyak piala citra di masa itu tentunya tidak lepas dengan tulisan putu wijaya.
    poin di nomor 6 rasanya sangat sesuai dengan karakter putu wijaya yang jujur dan apa adanya :)
    Menarik kk referensi bukunya^^

    BalasHapus
  5. butuh napas membaca yang panjang buat baca tetralogi ini. Putu wijaya biasanya punya kekuatan memindahkan realitas ke dalam fiksi. aku belum punya novel ini, makasih mas atas ulasannya. jadi bikin pengen baca

    BalasHapus
  6. Kebetulan lagi cari referensi novel menarik untuk dibaca. Mungkin novel ini akan masuk ke list buku yang harus dibaca
    Makasih infonya

    BalasHapus
  7. Kayaknya waktu kecil dulu aku mengenal nama Putu Wijaya di drama sinetron. Pas kubaca-baca lagi ternyata sastrawan juga ya, karya cerpen dan bukunya banyak serta sepertinya makna yang terkandung di dalamnya tinggi

    BalasHapus
  8. wah rekomended nih novelnya. ntar aku mau baca jugalah.. kayaknya seru nih ttg dunia jurnalisme. blogger butuh idealisme juga sama kaya wartawan. yah nggak papa sesekali nulis buat endorsement. tapi kalo utk tulisan bertema sospol wajib netral..

    BalasHapus
  9. Resensi keren. Sejauh ini karya beliau, Putu Wijaya oke punya. Apalagi novel ini katanya tentang dunia jurnalisme ya, pengen baca segera saya.

    BalasHapus
  10. Pertama kali baca karya Putu Wijaya itu dulu pas SMA, baca cerepnnya yang berjudul Guru. Memang mantap karya sastrawan Indonesia, kalo untuk Novel ini saya belom baca, semoga next time bisa dibaca hehe. Terima kasih untuk resensinya

    BalasHapus
  11. Perkataan tentang kebenaran yang tak menjual untuk apa diberitakan.

    Kayaknya ini relatable banget dengan keadaan sekarang. Putu Wijaya emang mampu memberi pesan yang menggelitik bagi kehidupan manusia.

    BalasHapus
  12. Belum baca, tapi udah masuk waiting list. Penasaran karena temanya ngingetin banget jaman aku masih nguli dulu ....

    Duh, jadi kangen mau ke lapangan lagi berburu berita 😊

    BalasHapus
  13. Wuaa saya terharu baca resensi ini. Rasanya relate sekali, mungkin lain kesempatan bisa saya baca. Terima kasih atas resensinya!

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama