Konservasi Sekaligus Wisata Bersama Empat Gajah di CRU Sampoiniet Aceh Jaya | Lim Suandi A Man Behind The Scenes

Rabu, 29 April 2020

Konservasi Sekaligus Wisata Bersama Empat Gajah di CRU Sampoiniet Aceh Jaya

Conservation Response Unit Sampoiniet atau biasa disebut CRU Sampoiniet, berada tepat di Desa Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.    CRU Sampoiniet ini dibangun dengan tujuan untuk mengurangi konflik yang terjadi antara manusia----masyarakat dengan gajah liar yang turun dari hutan mencari makan.
Berfoto bersama saat sedang memandikan gajah di sungai, 5 menit langsung naik sungai. Karena sungai langsung meluap ketika sore. (Foto: Panitia)


Sore tadi hujan rinai, membasahi daun-daun di pekarangan belakang rumah. Bukan mantan yang aku ingat! malah merindukan empat gajah yang pertama kali saya lihat secara langsung. Memberikan makan, menyentuh kulitnya, dan sungguh ini kali pertama. Takut? Sudah pasti, namun rasa penasaran harusnya lebih besar. Semua akan aman selama ada Mahout (Pawang Gajah).




Latar Belakang Perjalanan

Perjalanan yang dilakukan di Aceh, merupakan rangkaian acara pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) 2018 dari UKM Pers DETak (Pers Mahasiswa Univesritas Syiah Kuala). Kegiatan pelatihan nasional ini rutin dilakukan oleh beberapa pers mahasiswa berbagai universitas di Indonesia, untuk dapat mengikuti kegiatan tersebut harus tercatat sebagai aggota organisasi jurnalistik di kampus. Seleksi penerimaan peserta kegiatan berupa pengiriman tulisan dengan tema yang sudah ditentukan.

Singkat cerita, setelah menanti tanggal pengumuman. Akhirnya lolos menjadi peserta pelatihan bersama teman organsiasi LPM Gelora Sriwijaya (LPMGS) dan mengikuti rangkaian kegiatan yang telah ditentukan.

Sungguh disayangkan, cukup banyak drama selama proses izin mengikuti kegiatan, sehingga akhirnya membuat saya----kami tidak mengikuti kegiatan dihari pertama. Sebenarnya lebih banyak drama memalukan yang terjadi selama kegiatan di Aceh. (iya kan Num, wkwkwkwk). Sampai pulang juga harus punya drama mandi ke Kampus Unimed *skip bagian drama lain

Baca Juga: Main ke UIN Sumatera Utara,  Mandinya ke Kampus Unimed

Rangkaian kegiatan yang sangat capek dan sungguh menyenangkan. Sungguh pedas sekali pantat, belum lagi diterjang badai saat perjalanan, ada yang mabuk kan?

Conservation Response Unit Sampoiniet atau biasa disebut CRU Sampoiniet, berada tepat di Desa Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.    CRU Sampoiniet ini dibangun dengan tujuan untuk mengurangi konflik yang terjadi antara manusia----masyarakat dengan gajah liar yang turun dari hutan mencari makan.
Suasana saat peserta pelatihan akan menuju ke CRU Sampoiniet Aceh Jaya. (Foto: Lim Suandi)


Perjalanan dilakukan dari Banda Aceh, Aceh Jaya, dan Sabang. Perjalanan yang pada akhirnya mengunjungi ke beberapa lokasi wisata. Mulai dari berkunjung ke Masjid Baiturahman, Museum Tsunami, Gua Sarang, Benteng Anoe Itam, CRU Sampoiniet, Pantai Sumur tiga, KM Nol Indonesia.


Latar Belakang Berdirinya CRU Sampoiniet Aceh Jaya

Conservation Response Unit Sampoiniet atau biasa disebut CRU Sampoiniet, berada tepat di Desa Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.

CRU Sampoiniet ini dibangun dengan tujuan untuk mengurangi konflik yang terjadi antara manusia----masyarakat dengan gajah liar yang turun dari hutan mencari makan.

Conservation Response Unit Sampoiniet atau biasa disebut CRU Sampoiniet, berada tepat di Desa Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.    CRU Sampoiniet ini dibangun dengan tujuan untuk mengurangi konflik yang terjadi antara manusia----masyarakat dengan gajah liar yang turun dari hutan mencari makan.
Potret bangunan CRU Sampoiniet Aceh Jaya yang menjadi tempat penginapan saat kegiatan. (Foto: Lim Suandi)


Usai konflik bersenjata Aceh berakhir, di tahun 2005 terjadilah invasi lahan hutan oleh masyarakat guna dibangun menjadi area perkebunan, sehingga tanpa disadari pembangunan perkebunan masyarakat menjadi semakin luas. Sehingga hutan tempat tinggal satwa dilindungi beralih fungsi. Setidaknya menurut data Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) dari 2006 hingga 2013 kerusakan hutan di Aceh mencapai 32.000 hektare setiap tahunnya.

Baca juga: Ritual Kemah Tahunan di Kaki Gunung Dempo Pagar Alam

Kerusakan tersebut berimbas pada berbagai satwa, termasuk kepada gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Sehingga sejak 2005, banyak yang menjadi korban konflik dari manusia dan gajah. Konflik yang semakin tinggi tersebut membuat Pemerintahan di Kabupaten di Aceh, Balai Konservasi dan Sumber daya Alam (BKSDA) Aceh, juga dibantu Fauna and Flora International (FFI) Program Aceh guna mengatasi konflik tersebut.

Sehingga sepakatlah didirikan Conservation Response Unit (CRU) dan lokasi pertama dipilih adalah Desa Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh. Alasannya karena seringnya terjadi konflik dilokasi tersebut dan memang sudah ada lahan yang disiapkan pemerintah untuk menempatkan gajah jinak, mahout (Perawat gajah) dan ranger, serta masyarakat juga dilatih untuk menangani ketika akan terjadi konflik.

CRU Sampoiniet Aceh Jaya diresmikan Juli 2008 dengan empat gajah jinak dari Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Saree, Kabupaten Aceh Besar. Adapun penanganan konflik dengan cara menggiring gajah liar menjauh dari kebun masyarakat. Namun masalah kembali terjadi pada 2012, terdapat gajah liar yang kembali terbunuh oleh masyarakat. Sehingga memunculkan konflik masyarakat dengan tim CRU, sehingga BKSDA membuat keputusan memulangkan gajah jinak dan mahout kembali ke PLG Saree.

CRU berhenti beraktivitas, sehingga konflik masyarakat dan gajah kembali muncul. Masyarakat tidak dapat berkebun karena tim CRU yang menggiring gajah sudah tidak ada. Sehingga 28 Maret 2016 diaktifkan kembali CRU Sampoiniet Aceh Jaya atas kesepakatan bersama.


Cinta Aziz Bertepuk Sebelah Tangan

CRU Sampoiniet memiliki sistem dan struktur yang terdiri dari 4 mahout, 4 asisten mahout, dan 16 ranger. Saat kami berkunjung pada November 2018. Samsul Rizal sebagai Leader CRU Sampoiniet Kabupaten Aceh Jaya.

Hal yang cukup menyenangkan adalah kamu dapat melihat empat gajah disini. Namun sayangnya saat berkunjung hanya terdapat tiga saja yang dimasukan dalam satu kandang, karena yang satu lagi terpaksa harus dirantai dibawah pohon luar kandang. Ada yang tau?

Conservation Response Unit Sampoiniet atau biasa disebut CRU Sampoiniet, berada tepat di Desa Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.    CRU Sampoiniet ini dibangun dengan tujuan untuk mengurangi konflik yang terjadi antara manusia----masyarakat dengan gajah liar yang turun dari hutan mencari makan.
Potret 3 Gajah di kandang CRU Sampoiniet Aceh Jaya, yakni: Isabella, Ollo dan Joana. (Foto: Lim Suandi)


Saat kami datang memanglah musim hujan, gajah yang dirantai dibawah pohon sendiri bernama Aziz. Mengapa ditantai? Ya, Aziz lagi sange, eh salah, maksud saya tuh Aziz lagi di fase birahi. Sehingga akan bahaya jika digabungkan dengan Isabella, Joana, dan Ollo (Jantan). Karena katanya Aziz ini sangat cemburu jika Ollo mendekati Isabella, sehingga akan melakukan perkelahian sewaktu-waktu. Ternyata eh ternyata, saat itu Isabella lebih tertarik dengan Ollo. **Cinta bertepuk sebelah tangan. Eh tapi waktu itu yah, kali saja kan sekarang Isabella udah lain perasaan.

Conservation Response Unit Sampoiniet atau biasa disebut CRU Sampoiniet, berada tepat di Desa Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.    CRU Sampoiniet ini dibangun dengan tujuan untuk mengurangi konflik yang terjadi antara manusia----masyarakat dengan gajah liar yang turun dari hutan mencari makan.
Gajah yang menggunakan rantai adalah Aziz, karena suka ngamuk (Foto: Lim Suandi)

Baca juga: Serunya Arung Jeram Bersama Ranau Rafting


Kalian Harus ke CRU Sampoiniet Aceh Jaya

Conservation Response Unit Sampoiniet atau biasa disebut CRU Sampoiniet, berada tepat di Desa Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.    CRU Sampoiniet ini dibangun dengan tujuan untuk mengurangi konflik yang terjadi antara manusia----masyarakat dengan gajah liar yang turun dari hutan mencari makan.
Saya dan tiga gajah yang menggemaskan ketika berada di kandangnya. (Foto: Lim Suandi/Nurma)

Bagi kamu----kalian yang suka menyusuri hutan dan kesejukan alam, berkunjung ke CRU Sampoiniet Aceh Jaya sepertinya sangat cocok, terlebih kalian sebagai orang yang bergerak sebagai aktivis lingkungan.

Oh iya, bagi kalian yang ingin berkunjung ke CRU Sampoiniet Aceh jaya, dapat berkunjung menggunakan motor ataupun mobil dengan jarak tempuh sekitar 2 jam atau 120 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh ke CRU Sampoiniet Aceh Jaya. Untuk biaya saya tidak tau ya, karena kami naik mobil polisi (Sponsor kegiatan). Alangkah baiknya memiiki teman di Aceh, biar bisa diajak bareng dan membantu kalau-kalau nanti bingung perihal bahasa. Kalau di CRU aman kok, bisa pake bahasa Indonesia.

Conservation Response Unit Sampoiniet atau biasa disebut CRU Sampoiniet, berada tepat di Desa Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.    CRU Sampoiniet ini dibangun dengan tujuan untuk mengurangi konflik yang terjadi antara manusia----masyarakat dengan gajah liar yang turun dari hutan mencari makan.
Suasana pagi di CRU Sampoiniet Aceh Jaya, segar dan berkabut. (Foto: Panitia)


Kalau kamu datang dengan jumlah orang yang banyak, atau merupakan kunjungan suatu komunitas. Ada baiknya kamu kontak langsung pihak dari CRU Sampoiniet Aceh Jaya, biar diatur jadwalnya, serta kunjungan biasa dibatasi, serta menyiapkan apa saja dapat membantu kegiatan kalian. Hal lebih penting menyiapkan penginapan bagi komunitas jumlah besar untuk menginap. CRU Sampoiniet Aceh Jaya telah tersedia tempat menginap bagi yang akan berkunjung, perihal biaya masih bayar keikhlasnya (saat kami berkunjung November 2018), dana tersebut digunakan perawatan gajah serta membangun fasilitas infrastruktur di dalam CRU Sampoiniet sendiri. Gara bisa mengubungi tim CRU bisa kontak di Instagram CRU Sampoiniet Aceh Jaya (Klik teks biru).

Bukan hanya organisasi ataupun komunitas lokal dan nasional. Pengunjung di CRU Sampoiniet Aceh Jaya juga banyak dari organisasi lingkungan dan satwa internasional. Jika saat kami berkunjung ke CRU Sampoiniet bersamaan dengan liputan Program Indonesiaku Trans7 (Reporter Rivo Pahlevi) meskipun sebenarnya sebagai pemateri dalam pelatihan. Beberapa minggu setelah kunjungan tersebut disusul kedatangan World Wide Fund for Nature (WWF) dan Chicco Jerikjo. Dilanjutkan kedatangan Nicholas Saputra dari Yayasan Leuser Internasional. Serta berbagai organisasi besar lainnya.

Conservation Response Unit Sampoiniet atau biasa disebut CRU Sampoiniet, berada tepat di Desa Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.    CRU Sampoiniet ini dibangun dengan tujuan untuk mengurangi konflik yang terjadi antara manusia----masyarakat dengan gajah liar yang turun dari hutan mencari makan.
Suasana saat berkumpul bersama Rivo Pahlevi dan membahas hasil video yang telah diambil saat membuat liputan tentang gajah di CRU Sampoiniet. (Foto: Lim Suandi)


Bukan Hanya Konservasi

CRU Sampoiniet Aceh Jaya memanglah sebagai unit yang bertugas mengurangi bahkan menghilangkan konflik manusia dan gajah. Sebagai wadah konservasi yang bertugas melindungi jumlah gajah yang keberadaanya semakin berkurang.keberadaan CRU sangatlah penting dimata dunia.

CRU Sampoiniet Aceh Jaya juga menjadi wisata bagi siapapun yang ingin melihat gajah secara langsung. Oh iya, jangan naik gajah ya. Karena katanya, itu menyiksa gajah. Pastikan kunjungan kamu ke lokasi terlebih dahulu mengkontak pihak CRU.

Hal paling berkesan adalah pengabdian para mahout di CRU Sampoiniet kepada 4 gajah. Kedekatan yang membutuhkan proses dan perjalanan panjang, membutuhkan kedekatan secara psikologis yang dibangun bertahun-tahun agar sang gajah menurut. Hingga sang mahout menikahpun memilih untuk foto pernikahan bersama gajah kesayangannya. Salah satunya terjadi pada mahout Taslim.

Kalau kalian punya kesempatan dalam segala hal, apa mungkin kamu ingin berkunjung ke CRU Sampoiniet Aceh Jaya?

Jika tulisannya bermanfaat, bantu bagikan ya kak

2 komentar


  1. Aku dulu ke Way Kambas ketemu juga dengan gajah, tapi sayang waktu terbatas sehingga kurang ngeliat aktifitas mereka secara keseluruhan. Pengen juga jadinya yang ke Aceh ini.

    Btw, Hwhw, Aziz, I feel you! lol.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah aku yang belom ke Way Kambas nih. Namanya kunjungan dalam rangka kegiatan orang lain, ya gitulah. Ke lokasi cuma sebentar dan lanjut pindah lagi.

      Semoga tercapai nih kalau pengen lihat Aziz di Aceh. Ini i fell you part yang mana?

      Hapus