Kamis, 26 Desember 2019

Ulasan Rempah Rindu: Sebuah Kerinduan dan Kenangan



Buku Rempah Rindu: Ketika kehangatan rasa perlu diungkap


Terima kasih ku ucapkan kepada  Marfa Umi yang telah bersedia memberikan buku ini untuk diulas. Ku ucapkan selamat kepada teman-teman penulis dalam buku ini, Kolaborasi buku Rempah Rindu cetakan pertama yang sangat membuat penasaran. Terima kasih Gina Maftunah, MS Wijaya, Marfa Umi, Nenny Makmum, Pratami Diah Herliana, Salamun Ali Mafaz dan Veronica Gabriella.

Saya menyadari teman-teman sangat hebat karena telah menulis cerita ini, bahkan telah menerbitkannya. Selama membaca buku ini, aku tidak membaca biografi masing-masing penulis. Ku pikir jika membaca akan mempengaruhi pendapatku ketika menulis. Baruslah ketika selesai menuliskan ulasan ini, aku membaca biografi kalian satu persatu. Wah ternyata penulis-penulis hebat dengan berbagai karya.

Mohon maaf jika dalam ulasan terdapat hal yang mungkin membuat ketersinggungan ataupun hal-hal yang tidak mengenakan bagi penulisnya. Tulisan ini saya buat tanpa melihat latarbelakang penulis. Tulisan ini murni saya tulis sebagai seorang pembaca buku. Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk mengulas buku ini.

Buku “Rempah Rindu” terbit Agustus 2019 dengan ketebalan 256 halaman dan diterbitkan oleh Azkiya Publishing. Bagiku ini buku diawali dengan kebosanan serta alur cerita yang terasa dapat kutebak alurnya. Namun demikian ada cukup banyak makna yang dapat aku terima perihal kerinduan terhadap orang terkasih.
Buku Rempah Rindu: Foto di ambil saat buku datang pada hari pertama.


Cover:
Tidak masalah perihal cover, aku kira hanya ada satu sosok dalam buku. Ternyata terdapat dua orang. Bahkan aku tidak menyadari sebelumnya. Baru sadar ketika selesai membaca semua tulisannya. Setidaknya desain cover yang menarik, apa mungkin siluet bayangan merah adalah kenangan?

Hal yanag membuat cover menjadi minus adalah tulisan Rempah Rindu yang berwarna emas mengalami luntur. Entah karena goresan ataupun keringat dari tanganku. Setidaknya menjadi nilai minus, sebab buku ini baru sampai ditanganku baru 4 hari. Sampai pada Selasa (24/12/19), sedangkan selesai dibaca pada Jumat (27/12/19).
Buku Rempah Rindu; Kondisi pada tulisan yang sudah rusak dalam waktu 4 hari.


Izinkan saya mengulas isi ceritanya satu persatu dari tujuh penulis hebat dalam buku ini.


Rempah Rindu – MS Wijaya

Sebelum membaca ceritanya, aku mulai menerka alur cerita. Kupiker alurnya akan menceritakan tentang rempah-rempah yang berhubungan dengan kerinduan terhadap orang tua. Siapa sangka isi ceritanya sesui dengan yang kupikirkan. Alur ceritanya mudah tertebak, setiap selesai membacanya aku memikirkan alur selanjutnya pasti seperti ini, seperti itu. Ah siapa sangka alurnya sesuai dugaan diriku. Jujur bagiku cerita dengan alur yang sudah dapat ditebak adalah hal yang membosankan.

Awal cerita yang dimulai dengan latar kompetisi memasak. Ah jujur membosankan, aku membayangkan ini seperti acara memasak di televisi yang chef chef itu. Sangat membosankan membaca pada bagian tersebut, kemudian di lanjutkan dengan Paul yang berkunjung ke pulau. Pergi setelah kematian Laura, cukup menarik. Ku lanjutkan membacanya, sampai pada bagian yang mulai membosankan. Kini aku mulai menduga isi cerita. Siapa sangka dugaanku tepat, Aryo kehilangan orang tua dan di adopsi oleh Paul dan hidup menjadi anaknya.

Jujur sudah cukup sering membaca cerita dengan alur begini, bahkan banyak cerita seperti ini dalam kehidupan. Mungkin pembaca lain juga pernah membaca alur seperti ini. Bagian paling aku suka dan sekaligus tidak masuk akal, karena udah puluhan tahun. Yakni bagian epilog ketika ia mencabut jahe dan menemukan kamera dengan kondisi film yang dalam keadaan baik. Menarik tapi sangatlah tidak masuk akal bagiku dengan rentang waktu demikian. Oh Aryo (Gondo) akhirnya kamu dapat melihat lagi wajah ibumu. Cerita tentang ibu memang selalu membuat mataku berkaca-kaca, meskipun aku berasa kenal dengan alur ceritanya.


Kidung Vanili – Nenny Makmun

Alur cerita yang membuatku emosional. Bagaimana tidak, akupun turut kesal terhadap bapaknya Kidung. Istrinya meninggal atas tindakan yang telah dia perbuat. Ah sungguh sangat menjengkelkan. Bagiku hal yang sangat tidak masuk di pikiran selama membaca adalah perilaku Kidung. Mudahnya menerima kenyataan atas kepergian ibunya dengan cepat. Apalagi dengan usianya yang masih Sekolah Dasar, bukankah ada trauma? Apa iya Kidung tidak merasa kehilangan, apa mungkin lupa hanya karena kebun vanili. Terlebih hanya dalam berapa minggu, kebencian terhadap bapaknya berkurang hanya karena bapaknya kembali bekerja di kebun vanili. Hanya dalam hitungan minggu Kidung telah jatuh hati dengan seorang anak (Padahal kidung masih Sekolah Dasar).

Selama membaca aku selalu berpikir bahwa Kidung mencintai Banyu. Oh sangat menguras emosi ketika Kidung hanya menganggap Banyu hanyalah sahabatnya. Kekesalan tersebut setelah membaca pada halaman 85. Oh perempuan, mengapa kalian main hati lalu menyatakan hanya sebagai teman (Pikirku dalam hati).

Alur cerita kehidupan Kidung sungguh berliku, aku tak dapat menebak apa yang terjadi selanjutnya. Aku mengira Kidung akan menikah dengan Arjuna dan membuat hancurnya perasaan Banyu.  Selama membaca ini sangat emosional perihal liku kehidupan yang terjadi antar Kidung dan Banyu. Andai Kidung ada dalam kehidupan nyata, hadir memberikan cinta kasih yang membawa perubahan pada orang yang dianggap autis. Banyu, kamu telah berjuang untuk menjadi lebih baik. Sungguh kisah yang sangat menarik dan tidak dapat ku tebak alurnya.


Aroma Cinta Andaliman – Veronica Gabriella

Tulisan ini membuatku penasaran akan sambal Andaliman, jujur setalah membacanya aku langsung mencarinya di google. Bahkan sangat penasaran akan cita rasa sambal Andaliman yang diceritakan dalam tulisan “Aroma Cinta Andaliman”. Tulisan ini juga memberikan informasi serta membuat saya mencoba mencari informasi lebih tentang penyakit Alzaimer. Setidaknya bagiku menjadi nilai lebih dari sebuat tulisan yang membuat pembaca harus mencari informasi lagi melalui google.

Alur cerita dengan latar belakang dihadapkan dua pilihan yang cukup sulit. Melanjutkan pendidikan ataupun memilih membangun usaha seorang Ibu. Pertengkaran yang berujung pada penyesalan, kemudian menjadi pembangkit semangat untuk menentukan pilihan. Meskipun akhirnya tetaplah harus menjadi sebuah perpisahan.

Note:Aku mulai menyimpulkan bahwa seluruh cerita dalam buku ini bercerita tentang kehilangan sosok ibu. Dari cerita pertama, kedua dan ketiga selalu ada bagian yang menceritakan tentang kepergian ibu.

Jujur saja aku merasa enggan untuk melanjutkan membacanya. menarik tapi jujur membosankan jika seluruh cerita bercerita tentang hal yang hampir serupa. Kemudian aku lanjutkan untuk membaca.

Piper Amoris – Pratami Diah Herliana

Diawali dengan pembahasan mami, ya percakapan bastian dengan maminya. Aku mulai berpikir alur cerita bahwa bastian akan kehilangan sosok ibunya selama ia pergi untuk menjadi sosok mandiri. Berulang kali aku berpikir alur cerita dan endingnya pasti bakal seperti yang aku duga. Membaca dan terus membaca ternyata dugaanku salah. Bastian kembali dengan bahagiah bersama sang mami. Alur cerita yang tidak bisa aku menebaknya. Bagiku ya menarik karena jalan cerita yang aku duga ternyata salah. Justru inilah yang membuat pembaca (aku) tidak bosan untuk melanjutkan membacanya.

Kalau mau jujur sangat menarik karena membahas perihal perkebunan lada perusahaan dengan kondisi sosial ekonomi yang berbalik pada masyarakat. Setidaknya menjadi bentuk tulisan yang menunjukan bahwa dibalik adanya lada yang melimpah dan dibutuhkan. Terdapat petani yang mengalami penderitaan. Mulai dari harga beli yang sangat rendah, bentuk tindak kekerasan juga banyak terjadi, banyaknya orang-orang jahat yang merampas.

Sebenarnya meskipun ini fiksi tapi juga bikin greget, kok bisa masyarakat dengan mudahnya terharu dengan perubahan pak Dibjo. Eh namanya juga tulisan ya. Tapi jujur sampai kok bisa alurnya sampai masyarakat ada yang memeluk pak Dibjo, padahal kalau secara realita akan sulit terjadi.

Hal yang paling membuat bosan. Perihal kematian seorang ibu masih menjadi bumbu dalam ke empat tulisan yang telah aku baca ini. Jujur ya, kok tragis banget kisah seorang ibu dalam cerita, selalu berakhir dalam kematian (bisa dibaca halaman 187). Ya meskipun sebenarnya memang akan ada waktunya orangtua kita tiada. Jujur apa iya perihal kematian ibu menjadi daya jual sebuah cerita? Maaf ya nggak ada maksud apapun. Aku hanya masih bingung mengapa selalu demikian.

Satu hal lagi yang jujur aku sampai harus mencari informasinya di google. Apa iya tempoyak bisa dicemil? Jujur masih belum aku temukan dalam kehidupan nyata cemilan tersebut. Sebab yang aku ketahui tempoyak hanya menjadi sambal, tambahan dalam gulai serta untuk pepes ikan. Belum tau kalau tempoyak bisa dicemil (perihal kudapan tempoyak pada halaman 179).


Memoar Anise – Marfa Umi

Tulisan dari awal hingga akhir banyak pesan, bahkan membuatku selaku pembaca mengulang-ulang maksud yang ingin disampaikan. Jujur aku masih menyimpulkan bahwa cerita yang dituliskan terasa terpisah. Jika empat tulisan sebelumnya masih dalam satu cerita, tetapi Memoar Anise terasa sangat terpisah disetiap bagiannya.

Kalimat yang paling aku suka adalah “Pertanyaan mengenai siapa kita di kehidupan sebelumnya, sering kali terlintas” (terdapat pada halaman 196). Kalimat yang juga sering muncul dibenakku, bahkan sebelum aku membaca buku ini. Bukankah kita pernah berpikir siapa kita pada masa lalu, karena sekarang menderita, tersakiti dan terkhianati. Kalimat ini juga menarik bagiku “…bagaimana rasanya dicintai begitu dalam,..” di halaman 201.

Dua kalimat Tanya yang berhasil membuatku pusing bertanya dengan diriku sendiri. Sekarang aku berusaha beberapa kali mengulang membaca tulisan Memoar Anise. Demi memahami makna apa lagi yang disampikan.


Kukejar Cinta ke Negeri Rempah – Salamun Ali Mafaz

Sebelum membaca ceritanya, aku sempat terpikir seperti judul film “Kukejar Cinta ke Negeri Cina”. Ku tunda membacanya, sembari berpikir apakah kisah disini juga akan serupa dengan alur dalam film tersebut. Berikut menurutku beberapa hal yang cukup mirip untuk ku simpulkan.

Pertama, petualangan seorang perempuan yang sedang melakukan perjalanan. Ya disini sosok Diva sedang melakukan perjalanan demi kebutuhan tugas kuliah, sedangkan dalam film juga menceritakn sosok Chen Jia Li (Eriska Rein) yang tengah melakukan perjalanan.

Kedua, sosok Dhika yang di identik dengan motor, bisa ku katakana serupa dengan sosok Ridwan Imam (Adipati Dolken) dalam film tersebut. Bahkan bagiku alur cerita ini dengan film tersebut hampir serupa. Yakni mengantar perempuan yang tengah bertualang kemanapun lokasi yang sedang ia cari. Laki-lakinya akan bersedia mengantar kemanapun.

Ketiga, sosok laki-laki dalam cerita dan film sama-sama memiliki seorang kekasih yang sudah lama mereka kenal.

Jujur bagiku terdapat kesamaan dalam isi cerita. Aku selaku pembaca butuh cerita yang lain dan berbeda. Karena kalau ada kemiripan akan sangat membosankan untuk dibaca.


Tenun Kenangan dalam Semangkuk Soto – Gina Maftunah

Sepertinya kisah yang dituliskan bukanlah fiksi, mungkin sedikit mengandung unsur kenyataan. Kisah ini sekaligus menjadi menutup yang mengesankan bagiku. Bagaimana tidak. Ini merupakan tulisan yang belum pernah aku membacanya, alur-alur cerita yang menyuguhkan hubungan yang harus terpisah dengan jarak cukup jauh dengan tujuan mengejar profesi. Ku kira hubungan tersebut akan berakhir dengan hal yang indah, atau salah satu dari mereka memilih menikah dengan orang lain saat sedang menjalani hubungan jarak jauh. Nyatanya tidak ada, baguslah tidak ada bagian demikian.

Cerita yang sangat menarik, mungkin ada kenangan yang masih melekat pada penulis. Apa mungkin ini sebenarnya pengalaman sosok Gina Maftunah? Karena ceritanya terasa begitu dalam dan ngena. Alur yang sangat menghanyutkan. Bisa ku katakan bahwa ini tulisan yang paling aku suka dalam buku ini.

Oh iya ada beberapa kalimat yang sebenarnya sangat aku suka, seperti kalimat “Alasanku kuat. Kamu pun tidak memiliki alasan lain yang lebih kuat untuk menahanku (hal. 241)”. Merupakan kalimat yang menurutku memanglah memotivasi bahwa saat mengejar apa yang ingin dicapai.

Kemudian kalimat “Kamu jadi penuh ambisi. Kamu ingin mengubah dan menaklukkan dunia. Entah dunia yang seperti apa yang sedang ingin coba kamu taklukkan” (pada hal. 250). Membuatku berpikir bahwa memanglah apa yang ingin kita kejar harus terus diperjuangkan. Namun sayangnya ambisi kitalah yang membuat orang-orang terkasih merasa terpinggirkan.

Semua tulisan adalah terbaik, hanya saja alur cerita yang terkesan sudah pernah ada membuatnya menjadi bosan untuk dibaca. Terima kasih telah berkenan untuk di ulas.

Previous Post
Next Post

1 komentar: