Review Film Joker (2019): Pesan Sosial Politik di Kota Ghotam Pada Kehidupan Arthur Fleck


Joker 2019 (doc. google)

Sepertinya tidak diperlu dijelaskan lebih rinci siapa itu Joker. Karena secara pribadi saya tidak mengikuti perkembangan Joker dari awal debut. Saya pun, bukan penggemar DC dengan segala Hiroes-nya. Namun pertama kali melihat Poster Joker di twitter cukup menarik dan beberapa bahasan orang-orang tentang film ini membuat penasaran.

Perlu diketahui bahwa Film Joker (2019) menceritakan tentang seorang Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) hingga menjadi sosok Supervillain yang sangat meresahkan Gotham dan selalu menjadi sosok yang dicari oleh Batman. Namun siapa sangka disinilah akhirnya dikatahui alasan Batman selalu mengejar Joker. Sehingga kusimpulkan bahwa ternyata mereka merupakan saudara se-ayah.

Mungkin sudah banyak ulasan terhadap Film Joker (2019), sudah cukup jelas dan rinci setiap review yang dilakukan berbagai sumber. Mulai dari kehebatan aktor, musik yang mendukung, cinematography yang sangat keren, kehidupan Arthur Fleck, kesedihannya, psikologi seorang Joker hingga banyak keheboan dengan narasi:
“Joker: Orang baik yang tersakiti"
Bahkan ada yang hidupnya merasa sama dengan Arthur Fleck, dan ada yang sampai berkata perlukah dia membunuh orang yang pernah menyakitinya. Seseram itukah pesan yang orang terima?


Dalam tulisan ini, hanyalah pendapat saya secara pribadi terhadap film Joker (2019) secara sosial politik. Jikapun ada kesalahan mari berikan saran demi kebaikan bersama.

Konstruksi Sosial Penonton Terhadap Joker sebagai Supervillain

Joker 2019 (doc. google)

Konstruksi sosial sendiri dapat diartikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan interaksi yang terjadi secara terus menerus hingga menjadi kenyataan sosial. 3 tahap konstruksi hingga menjadi kenyataan sosial menurut Berger & Luckmann: Eksternalisasi, Objektivasi, dan Internalisasi.

Seorang Arthur Fleck tidak pernah berkeingannya untuk menjadi seorang penjahat. Namun secara keseluruhan Film Joker berhasil membuat penonton mengkonstruksi bahwa Joker adalah Supervillain.

1.    Proses Eksternalisasi merupakan usaha pencurahan atapun ekspersi diri individu terhadap lingkungan baik secara fisik maupun mental. Arthur Fleck menjadi joker karena ia mencurahkan kemuakan dirinya terhadap kehidupan sosial yang membuatnya dibenci banyak orang. Namun nyatanya, ia bangga menjadi seorang Joker karena merasa lebih bahagiah, sehingga tindakan tersebut berualng kali dilakukan. 

2. Proses Objektivasi merupakan proses ide-ide tersebut menjadi objek dan mulai dipersepsikan sebagai kenyataan.  Objektifikasi melibatkan konsesus, interaksi dan habitus. Hal ini merupakan proses objektifikasi yang penonton lihat. Penonton berusaha melakukan kesepakatan bahwa Joker adalah Supervillain karena selama dalam film, lebih banyak kerusuhan dan kerusakan yang diperbuat. Hingga tindakan yang dilakukan Joker sudah dianggap sebagai bagian dari kebiasaan seorang joker (Habitus).

3.  Internalisasi merupakan proses akhir yang menyatakan bahwa individu melihat sesuatu sebagai kenyataan objektif. Padahal hanyalah terbentuk dari pemikiran dan opini. Kenyataanya memang setiap orang sepakat bahwa Joker merupakan sosok supervillain. Setelah melalui proses pengamatan terhadap tindakan jahat seorang joker.

Sehingga dari berbagai Film yang terdapat Joker sangatlah mempengaruhi persepsi kita terhadap citra seorang Supervillain Joker. Konstruksi ini dibangun oleh DC, Joker dan Penonton.

Konflik Sosial Film Joker (2019)

Joker 2019 (doc. google)

Gambaran kondisi pilu, tragis serta kegilaan dalam Film Joker (2019) sangatlah gamblang ditunjukan. Sadar ataupun tidak kondisi demikian merupakan hal yang hingga saat ini masih menjadi permasalahan diberbagai negara. Konflik sosial yang ditunjukkan dalam film Joker (2019) juga sangat jelas terlihat. Konflik sosial tersebut meliputi:

1.       Kelompok Barjuis dan Kaum Proletar
Secara pribadi cukup jelas ditampilkan adanya perbedaan kelas sosial yang diperlihatkan dalam Joker (2019). Kelompok Borjuis ditunjukan pada elit dan konglomerat sedangkan Proletar merupakan masyarakat miskin di kota Gotham. Hidup di Gotham dalam kondisi titik buruk hingga munculnya perpecahan. Sangatlah jelas adanya kelas sosial dan perbedaan perlakukan.

2.       Kekerasan Fisik dan Mental (Rundung dan Pukulan)
Kita tidak akan membahas tindakan yang dilakukan Joker. Melainkan membahas perlakuan sebelum munculnya seorang joker. Kekerasan fisik sangat jelas 60 menit pertama dalam film. Belum lagi tindakan rundung terhadap dirinya yang sering dianggap mengalami kejiwaan yang sakit, hingga semakin membuat Arthur Fleck mengalami mental yang tertekan.

3.       Pelecehan
Pelecehan masih kerap terjadi dalam kehidupan sosial. Terlihat dalam Film Joker (2019) saat seorang perempuan diganggu tiga laki-laki saat berada dalam kereta. Tindakan tersebut terjadi di kereta yang sepi penumpang.

4.     Politik Manipulatif dan Keberpihakan Media
Saat terbunuhnya tiga orang kaya yang merusaha melakukan pelecehan terhadap seorang perempuan dan tindak kekerasan terhadap Arthur Fleck. Pemerintah menyalahkan tindakan tersebut terjadi sebagai perbuatan yang dilakukan warga miskin Gotham karena permasalahan ekonomi. Belum lagi media lebih berfokus pada pemunuhan yang dilakukan oleh badut lebih menarik ketimbang isu kemiskinan dan gejolak di Gotham. Padahal konflik ekonomi tengah memuncak di Gotham.

5.     Kejahatan adalah Tindakan Warga Miskin.
Tindakan kejatahan sering dianggap sebagai hal yang dilakukan oleh warga miskin. begitulah pernyataan yang disampaikan pemerintah.

6.       Pemerintah yang Tidak Peduli
    Hal yang paling membuat saya terperanga adalah saat banyaknya warga Gotham yang menuntut dan melakukan aksi didepan gedung pemerintahan. Eh pemerintahnya justru sedang asyik menonton Film Komedi dalam gedung. Mungkin begitulah kondisi saat mahasiswa aksi namun ternyata pemerintah sedang nyaman dalam gedung pemerintahan.

7.   Lingkungan yang Kurang Mengapresiasi dan Penerimaan.
      Secara keseluruhan film Joker (2019) memang berceita kemalangan seorang Arthur Fleck. Segala tindakan yang dilakukannya tidak ada apresiasi dari siapapun, Arthur Fleck yang malang. Lingkungan yang benar-benar membuat geram. Mulai dari pengkhianatan yang dilakukan teman, orang tua yang tidak menerimanya, kehilangan pekerjaan, dianggap aneh dan gila, serta berbagai tidak kekerasan yang diterimanya.


Siapapun Akan Ber-Empati

Awal mulainya Film dari menit pertama, penonton banyak yang tertawa karena Arthur tertawa secara terus menerus hingga tersedak. Lucu namun semakin berjalannya alur cerita, setiap kali Arthur tertawa lirih penonton di bioskop mulai kehilangan nyali. Semua seperti terbungkam dengan tawa Arthur yang menyimpan pilu dan beban yang mendalam. Mulai dari sorot mata, raut wajah, gerak badan hingga tawa yang sangat terasa membekas di ingatan siapapun yang menonton. Hingga banyak yang ber-empati terhadap kehidupan malang Arthur Fleck.

Atas persepsi buruk kita terhadap Joker selama ini, jadi muncul pertanyaan bahwa Joker itu apa Supervillain atau Heroes?
ini pakai filter Joker di Instagram. (doc. www.limsuandi.com)


11 Komentar untuk "Review Film Joker (2019): Pesan Sosial Politik di Kota Ghotam Pada Kehidupan Arthur Fleck"

  1. Tulisan yg menarik untuk disimak... tks

    BalasHapus
  2. Wah gila, ini komplit banget sih ngulas Jokernya. Baru sadar si sutradara mikirin sampe bener-bener sejauh dan detail itu. Ada semua lhoooo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak banget sisi sosial yang mau di tunjukkan dalam film ini. Mana bentar lagi mantannya Joker juga debut film sendiri. Apakah Joker juga akan muncul disana, semoga iya.

      Hapus
  3. Sutradaranya emang keren banget sih sampe bisa bikin kita bingung, ini si Joker mau dikasihani iya mau sebelin karena kejahatannya juga iya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi membuat batasan antar baik dan buruk itu samar. Sebab setiap orang ounya sisi yang harus di kasihani. Kadang ada sisi menyebalkan.

      Hapus
  4. Sepertinya komunitas psikolog & psikiater wajib nonton film ini, bisa untuk bahan riset. Tipe2 Joker kan psikopat. Kunjungan perdana ke blog ini, mampir ke blog saya ya. Thx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan hanya 2 diatas. Para sosiologi juga harus nonton nih banyak banget pesan moralnya.

      Udah mampir kok, kucingnya lucu.

      Hapus
  5. apa cuma aku yang baca review film ini trus pengin banget nonton film joker, huhuh.. padahal awanya nggak tertarik sama sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya kak Ella harus mencoba menonton deh. banyak pesan sosial yang disampaikan.

      Hapus
    2. Siaaappp.. Otw nontonn. Hhh

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel