Bloger: Fenomena Berteman Sebatas Konten

Fenomena berteman sebatas konten memang hal yang lumrah dikalangan sesama bloger. (foto: www.limsuandi.com)


Sebelum membaca tulisan ini, teman-teman harus lapang dada dan pikiran terbuka. Mengingat judul mudah membangkitkan emosi dan mengundang respon yang bisa saja akan berakhir dengan hujatan. Tulisan ini tidak mengandung unsur apapun, hanya menyampaikan pemikiran saya pribadi. Mungkin juga teman-teman yang lain pernah mengalami (Mungkin).

Mengapa pertemanan bloger hanya sebatas konten menarik
Semakin menarik konten seseorang, maka kemungkinan untuk memiliki teman semakin besar. Katanya indikator konten menarik adalah banyaknya interaksi pada konten yang dibuat. Terlebih orang yang mereka kenal juga sudah banyak. Sehingga saling berkunjung memberikan ulasan.
Bagi bloger pemula konten seadanya, pasti perlu banyak mencari pertemanan untuk mendapatkan saran. Konten menarik itu yang bagaimana? Mau bertanya ke siapapun pasti bingung? Karena masuk dunia blog seorang diri (di tempat tinggal, bukan jagat siber). Mau bertanya kepada yang punya kontennya menarik nggak direspon. Karena setelah mereka melihat konten kamu tidak menarik. 
"Eh sebagai penulis pemula sadar diri dong, masak harus senior yang duluan negur" yaelah, udah ditegur kok, cuma diread doang. udah ah dia jago influence orang di maya. tapi kayaknya kalau sesama sih agak susah bagi ilmu".
Sebenarnya nggak ada masalahnya sih untuk memberikan saran tanpa harus menunggu kontennya menarik. Beragam respon terhadap cuitan saya di twitter mengenai blogger yang harus saling mendukung dengan cara saling follow. Respon terbanyak adalah 
“kalau kamu kontennya menarik ya saya follow balik, mengapa harus follow balik kalau kontennya nggak menarik”.
Bolehkah saya menyimpulkan untuk bagian ini, berteman sesama bloger yang belum ketemu hanya sebatas konten.

Mengapa tidak saling mendukung?
Tidak bisa dipungkiri bahwa untuk merasa senang dan lanjut nulis blog itu harus punya teman yang saling mendukung. Saling berkunjung dan saling terhubung di sosial media. Salah satu bentuk dukungan terhadap sesama adalah saling berteman di sosial media.
Nyatanya tidak semudah demikian. Beberapa kasus tertentu orang hanya akan berkunjung dan saling mengikuti ketika konten yang kamu berikan menarik. Padahal pada tahap proses tidak semua orang langsung dapat membuat konten menarik.
Semua butuh proses, bagi yang belum menarik kontennya tidak akan berteman dong?

Benarkah bloger hanya berteman orang yang ia kenal.
Sebenarnya tidak bisa dipungkiri jika seseorang melakukan demikian. Hal tersebut dengan pertimbangan kenyamanan ketika ia bersosial media.
Namun pernah nggak kita berpikir, ketika memutuskan untuk masuk dunia maya. Artinya sudah memutuskan untuk terkoneksi dengan banyak orang dengan pelbagai latar. Mengapa tidak membuat akun yang digembok, saja jika hanya ingin berteman dengan yang dikenal?
“Eh aku saja punya teman dunia nyata, follow aku di twitter dan nggak aku ikuti balik. Ngapaian konten dia saja nggak menarik. Karena yang aku ikuti berdasarkan minat dan hal yang membuat aku senang saja" . 
Terus ada ungkapan lain yang berkata
"Ya nggak bisa gitu, kali saja kan di twitter dia isinya konten negatif, porno dan ujar kebencian” 
Yang membuat aku bingung, sejak kapan anak bloger membuat dan menyebarkan konten negatif, porno dan ujar kebencian?

Masalah saling follow hak pribadi dan referensi individu.
Melakukan tindakan follow ataupun unfollow merupakan hak siapa saja, dengan pandangan menarik atau tidak konten orang tersebut. Terbilang cukup menarik, karena sebenarnya kasus berteman melihat konten yang dibuat terjadi pada akun yang bisa dikatakan sudah banyak meng-influence. Akan beda kasus pada bloger yang masih pemula, lebih butuh banyak mencari teman demi referensi dan bertanya. Logikanya mana pernah ada ya bloger pemula yang milih-milih teman.

Setuju nggak dengan kata “Kita bloger hanya se-Profesi, tapi belum tentu menjadi teman”?
Baru sadar sebenarnya aku tu cuma se-profesi belum tentu kita berteman, apalagi berteman dijagat siber. Sebenernya bener juga ya, kalau nggak ada yang diuntungkan dari tulisanmu mengapa harus berteman.  Namun bagi aku teman maya dengan sesama profesi sudah termasuk teman. Karena definisi teman bukan hanya orang yang dikenal secara langsung di offline.
Diibaratkan nih, kalau kamu berasal dari Palembang. Terus merantau ke Kalimantan udah puluhan tahun, eh ketemu orang yang ternyata juga dari Palembang. Bagaimana rasanya?
Begitu pula bagiku pertemanan dalam bloger.

Bagiku ada perbedaan istilah bloger dan konten kreator (konten writer)
Ketika seseorang memilih menulis biodata di sosial media menyertakan bloger. Sebenarnya ada tanggungjawab secara personal yang sadar atau tidak ia ambil. Saya pribadi memahami bahwa ada perbedaan mendasar antara bloger dan konten kreator (termasuk konten writer). Meskipun bloger adalah konten kreator.
Saya menyimpulkan begini, konten kreator merupakan orang yang menghasilkan konten. Orang suka ataupun tidak terhadap kontennya, bukan masalah. karena konten kreator bisa dibuat sendiri ataupun kelompok. Konten kreator nggak pernah tuh buat kegiatan kumpulan. Nggak mungkinkan kamu minta follback ke Ria Ricis atau Atta Halilintar.
Sedangkan bloger, memang berkecimpung dalam kepenulisan. Namun kebanyakan bloger merupakan perkumpulan orang yang bertugas meng-influene orang lain dengan tujuan tertentu. Komunikasi yang terjadi harusnya dua arah. Justru bentuk terbaik dari para bloger adalah saling mendukung. Misalnya kamu bertemu sama teman baru sesama blogger, pasti saling mengajak untuk follow.

“Sebenarnya kembali lagi ke pandangan masing-masing. Tidak ada salahnya untuk saling mendukung. Terima kasih sudah membaca.”

Berlangganan update artikel terbaru via email:

5 Responses to "Bloger: Fenomena Berteman Sebatas Konten"

  1. Menurut gue, perkara follow dan follow back itu udah hak masing-masing. Gue pribadi sih gak masalah kalo gak di follow back, apalagi kalo gue suka sama updateannya. Toh tanpa di follow back pun tetap bisa berteman, kan kalo dia update masih bisa kita komentarin, kan.

    Ada beberapa teman blogger yg gue sama dia berteman di blog aja, untuk di sosmed enggak saling follow. Tapi kita tetep sering ketemu, ketemu yg di luar acara blogger, ya. Padahal konten kita berbeda, tapi karena satu payung di blogger jadi ya berteman aja, sih.

    BalasHapus
  2. apa ini hanya terjadi di circle saudara aja ya? soalnya selama saya ngeblog lama sih kita mau berteman sebatas konten atau emang saling mendukung tidak masalah.

    membatasi hubungan dengan memilih follow akun yang diinginkan itu baik. jangan sampai kita merasa gerah karena konten yang kita tak bisa nikmati.

    BalasHapus
  3. Sudahlah, kita berteman jangan sbagai pemula ato suhu 😁
    Kita berteman sebagai sama sama partner google aja

    BalasHapus
  4. Waduh... ini tuh berarti ngomonginnya blogger sebagai profesi ya? Agak bingung juga kalau mengotakkan blogger jadi kayak gitu. Terlebih ngebandingin bloger yang kamu bilang sebagai (profesi, kumpulan) dengan konten kreator yang menurutmu (individu, bukan kumpulan, entah profesi atau bukan).

    Karena banyak juga blogger-blogger ngaco serampangan yang isi kontennya cuma haha-hihi aja. Ya... gue ini. Muahahaha.

    BalasHapus
  5. Wah aku sih dari awal blogger itu buat hoby, buat nulis. Biar lega.
    Dapet teman syukur, ga dapet teman yaudah.
    Dapet job syukur, ga dapet job yaudah.

    Yaa kalo ngotakin blogger pro sama blogger hobby sih susah, wkwk semua tergantung niat bukan ?

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel